BRMP Pascapanen Perkuat Penerapan PM-AAS dan Percepatan LTT di Banyuasin
PALEMBANG – Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian (BRMP Pascapanen) memperkuat sinergi percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) dan penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Banyuasin sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi padi dan mendukung target swasembada pangan nasional.
Upaya tersebut dilakukan melalui Rapat Koordinasi Pencapaian LTT Padi Bulan Juli Kabupaten Banyuasin dan Peningkatan Produksi Padi melalui Perluasan Penerapan PM-AAS yang digelar di Palembang, Rabu (15/7). Kegiatan itu diikuti BRMP Sumatera Selatan, Pemerintah Kabupaten Banyuasin, BPTPH Sumatera Selatan, BRIN, serta para penyuluh pertanian.
Kepala BRMP Pascapanen sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Kabupaten Banyuasin, Dr. Suharyanto, S.P., M.P., mengatakan rapat koordinasi tersebut merupakan bagian dari pengawalan berbagai program strategis Kementerian Pertanian, mulai dari percepatan LTT, Optimalisasi Lahan (Oplah), pemanfaatan CSR, pengembangan padi gogo, hingga implementasi PM-AAS.
"Target produktivitas PM-AAS sebesar 10 ton per hektare merupakan tantangan bersama yang hanya dapat dicapai melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, koordinasi perlu terus dilakukan secara berkala agar pelaksanaan program di lapangan berjalan optimal," kata Suharyanto.
Ia menambahkan, Kabupaten Banyuasin memiliki target penerapan PM-AAS seluas 18.701 hektare dengan batas waktu tanam hingga September 2026. Untuk mendukung percepatan tersebut, penyuluh pertanian diminta segera menyusun dan mengusulkan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) melalui aplikasi e-Banpem agar bantuan pemerintah dapat segera disalurkan kepada petani.
Dalam kesempatan yang sama, peneliti BRMP Padi, Dr. Wage Ratna Rohaeni, menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan sistem budidaya padi modern yang mengombinasikan mekanisasi dengan pengaturan populasi tanaman yang lebih tinggi melalui sistem tanam benih langsung (tabela) berlarik, penggunaan varietas unggul sesuai kondisi wilayah, serta pemupukan yang lebih presisi. Menurutnya, penerapan teknologi tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik lahan, terutama di kawasan pasang surut seperti Banyuasin, agar mampu meningkatkan produktivitas secara optimal sekaligus menekan biaya produksi.
Penguatan program tersebut dinilai penting mengingat Sumatera Selatan merupakan salah satu lumbung pangan nasional. Pada 2025, provinsi ini mencatat surplus beras sekitar 1,357 juta ton, tertinggi dalam lima tahun terakhir, dan menargetkan produksi padi mencapai 5 juta ton gabah kering giling (GKG) pada 2026. Melalui percepatan LTT, perluasan penerapan PM-AAS, serta kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, peneliti, dan petani, Banyuasin diharapkan mampu menjadi salah satu daerah penggerak peningkatan produksi padi nasional sekaligus memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan.